Kisah Ms. Eni dari Makasar hanya 1 Bulan Persiapan LPDP Tembus Ke Monash University

  • by

Ads

Tantangan yang dihadapi
Saat kuliah di luar negeri, tentu saja ada beberapa tantangan yang akan dihadapi. Miss Eni mengatakan bahwa ada satu hal yang cukup mengejutkan saat beliau belajar di sana. Di Australia, para mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis dan mengutarakan pendapat mereka sebanyak mungkin! Di sana, mahasiswa tidak akan disalahkan atau ditertawakan saat menjelaskan tentang opini mereka yang mungkin tidak sesuai, jadi para mahasiswa merasa bebas untuk memberikan opini mereka di dalam kelas. Satu hal lagi yang cukup menarik adalah kebiasaan membaca di sana. Di Monash University, Miss Eni harus membaca puluhan artikel untuk menyusun sebuah essai. Tidak hanya itu, Miss Eni juga harus menyeleksi beberapa artikel dari sekian banyaknya untuk menemukan yang cocok untuk essainya. Hal ini cukup menantang untuk Miss Eni, karena beliau mengatakan bahwa praktek seperti ini jarang diterapkan di sistem Pendidikan Indonesia.

Tanggapan Miss Eni terhadap IELTS test.
IELTS test sudah menjadi sebuah requirement yang wajib diambil kalau kalian mengincar beasiswa ke luar negeri. Miss Eni sendiri mengalami pengalaman yang cukup menarik untuk persiapan beliau terhadap IELTS test ini. Miss Eni pertama kali mengambil IELTS test pada tahun 2009, jauh sebelum perjalanannya ke Australia. Miss Eni mendapatkan skor sebesar 6.5 saat pertama kali mengambil test tersebut, yang bisa dibilang lumayan bagus. 7 tahun kemudian, beliau mendapatkan tawaran dari muridnya untuk beasiswa LPDP, dan waktu persiapannya sangat tipis. Beliau hanya memiliki waktu sekitar 1 minggu untuk belajar IELTS lho! Dan Miss Eni juga sibuk dengan jam mengajarnya setiap hari, jadi beliau hanya memiliki sedikit waktu untuk mempelajari test tersebut.

Student Progress
Kami hanya punya waktu beberapa hari untuk melangsungkan kursus, sehingga waktu yang digunakan pun harus diatur semaksimal mungkin. Pada pertemuan pertama, Syifa diberikan penjelasan menyeluruh mengenai IELTS dan juga apa yang harus diperhatikan saat mengerjakan, terutama di Writing section. Setelahnya, kami menggunakan metode belajar melalui praktek langsung dengan mengerjakan berbagai contoh soal Writing section, baik Task 1 maupun Task 2, yang kemudian diberikan masukan serta sedikit penjelasan tata bahasa/arti kata bila diperlukan.

Secara garis besar, Syifa tidak terlalu kesulitan untuk menyusun tulisan. Setelah mengetahui format penulisan esai IELTS yang sebaiknya diikuti, Syifa bisa langsung menyesuaikan dan membagi informasi dengan baik ke dalam paragraf-paragraf. Ia dapat mencapai jumlah kata minimal yang diminta dalam limit waktu 60 menit. Penjabaran informasinya pun sudah kronologis, baik untuk Task 1 maupun Task 2, dan khusus untuk Task 2, Syifa sudah terbiasa menjelaskan poin argumennya lebih lanjut serta memberikan contoh untuk mendukung argument tersebut. Selain itu, Syifa dapat langsung memperbaiki kalimat yang awalnya terasa monoton, menjadi lebih panjang dan sedikit bervariasi.

Kelemahan utama Syifa terletak pada ketepatan
grammar dalam tulisannya. Syifa sering lupa menggunakan past tense ketika berhadapan dengan grafik atau diagram yang mencakup data dari masa lalu. Terkadang, susunan kata dalam kalimat-kalimatnya juga masih ambigu atau kurang dijabarkan. Syifa juga masih kurang dalam penggunaan kata penghubung, sehingga beberapa kali kalimatnya terlihat tidak terkoneksi dengan baik, dan pilihan katanya masih cenderung sederhana (belum menggunakan kata-kata akademis/level tinggi)

Tips dari Miss Eni untuk mereka yang ingin mengambil IELTS test dan belajar ke luar negeri.
Menurut Miss Eni, susah atau gampang-nya IELTS test adalah hal yang relatif. Tapi, maupun kemampuan Bahasa Inggris kalian sudah bagus atau masih kurang, kalian harus merencanakan hal ini dengan matang ya! Karena IELTS test bukanlah sebuah test yang dapat dipelajari dalam waktu sebulan saja. Untuk kalian yang ingin mengambil IELTS test, siapkanlah dari jauh hari, dan set a realistic goal agar kalian bisa mengetahui nilai yang dibutuhkan dan mengetahui bagian mana yang bisa kalian kembangkan. Beliau berkata bahwa kalian butuh setidaknya 6 bulan untuk latihan lho! 3 bulan untuk mempelajari test nya, dan 3 bulan lagi untuk latihan mengerjakan soal.

Persiapan itu tidak hanya persiapan akademis saja, tapi ada juga persiapan mental. Miss Eni menceritakan tentang bagaimana kalian harus bisa menyiapkan diri untuk melihat sesuatu yang baru. Kuncinya adalah being open minded, dimana kalian akan mempelajari tentang banyak hal yang baru dan kalian harus membiasakan diri dengan hal-hal yang baru tersebut. Satu hal lagi yang harus kalian persiapkan adalah, unpredictable tragedy. Tentu saja saat kalian mengambil beasiswa, kalian harus menyelesaikan masa kuliah kalian tepat waktu. Akan tetapi, tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi. Dalam cerita Miss Eni, beliau bercerita bahwa beliau telah kehilangan adiknya di tahun pertama, dan ayahnya di tahun kedua beliau kuliah di sana. Tetapi Miss Eni, dengan tegarnya, tetap berjuang untuk menyelesaikan kuliahnya secara tepat waktu, dan beliau berhasil. Maka dari itu, kalian harus prepare for any circumstances saat kalian berkuliah di luar negeri, dan tetap fokus untuk menyelesaikan kuliah kalian di sana.

Dan, itulah kisah inspirasi kita di artikel ini. Kita telah melihat perjuangan Miss Eni saat beliau kuliah di luar negeri. Kita juga bisa melihat betapa banyaknya hal yang bisa kita pelajari di sana dan bagaimana kita bisa mendapatkan wawasan yang jauh lebih luas.

If you have read this article, then what are you waiting for? Let’s reach a new horizon!