VIVA JUSTICIA DARI BELANDA

  • by

Ads

Saya duduk (secara virtual melalui Zoom Meeting) bersama Ms. Dini Sitorus, seorang lawyer yang saat ini bekerja di salah satu law firm ternama di Indonesia. Sebelum beliau dapat mencapai tahap ini, Ms. Dini, atau lebih akrab disapa Dini, membagikan kisah kesuksesannya dan perjuangannya menempuh pendidikan di luar negeri. Beliau mengambil Masters Degree di Leiden University, Belanda, mengambil jurusan hukum, dan lulus dengan gelar LL.M

KESEMPATAN KEDUA

Pertama kali Dini mengajukan beasiswa LPDP, beliau tidak berhasil mendapatkannya. “Pengajuan saya tidak diterima pertama kali, tapi saya terus berusaha dengan bekerja keras dan melakukan yang terbaik”, ujar Dini. Beliau mencoba bertanya pada mereka yang telah melewati seleksi ketat LPDP, menggali informasi dan mencari referensi, apapun yang dibutuhkan untuk berhasil kali ini. Beliau melakukan semua itu dalam satu bulan, karena pada saat itu, LPDP masih membuka kesempatan. Akhirnya, beliau lolos. Kerja kerasnya untuk berhasil kali ini membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Beliau juga menegaskan bahwa ini adalah manifestasi frasa semangat juang yang tidak asing di telinga kita: “Jangan menyerah”.

Walaupun Dini baru berhasil di kesempatan kedua, tidak berarti Dini “gagal” di kesempatan pertama. Mengingat ketatnya seleksi LPDP dan banyaknya peserta yang turut mengajukan beasiswa, tidak lolosnya beliau di kesempatan pertama hanyalah karena tidak beruntung. “Untuk kalian yang sedang berusaha, teruslah bekerja keras dan jangan menyerah.”, tegas Dini.

MEMPERSIAPKAN AMUNISI
Tidak semua orang dapat mengajukan beasiswa LPDP, tetapi bukan berarti hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melakukannya. Eksklusifitas bukanlah tujuan yang hendak dicapai dari program ini, melainkan kompetensi. Dini menyatakan bahwa untuk dapat diterima di program S2 hukum Leiden University, kandidat harus memiliki IPK minimal 3,5 di jenjang pendidikan sebelumnya. “Seleksinya cukup ketat dan kamu harus benar-benar memiliki IPK yang bagus. 3,5 adalah IPK yang mereka inginkan apabila kamu ingin masuk program ini.”, jelas Dini. Persiapan matang adalah sesuatu yang wajib dipertimbangkan. Apabila seorang kandidat ingin mengajukan beasiswa, lebih baik kandidat ini mempertimbangkannya sejak pertama kali dia memulai kehidupannya di jenjang pendidikan sebelumnya.

Dini juga sempat mengalami masa dimana IPK beliau belum mencapai IPK yang diinginkan. Dini menjelaskan, “karena saya sudah dari awal berniat untuk mengambil S2 di Leiden dan saya sadar akan syaratnya, saya bekerja keras untuk mengejar IPK 3,5 selama saya kuliah”. Kandidat yang ingin mengambil S2 baiknya merencanakan rencanya matang-matang, karena setiap kampus memiliki syarat yang berbeda-beda, dan beberapa diantaranya memiliki syarat yang cukup tinggi.

DO YOU SPEAK ENGLISH?
Walaupun beberapa kampus di luar negeri tidak mengharuskan kandidat pemohon beasiswa untuk memiliki kemampuan berbahasa Inggris, tidak dapat dipungkiri bahwa Bahasa Inggris adalah bahasa yang digunakan secara umum di khalayak internasional, dan banyak kampus yang mengharuskan siswanya berbahasa Inggris secara fasih. Dini menyampaikan betapa pentingnya melaksanakan tes untuk mengukur kemampuan berbahasa Inggris sebelum seseorang dapat mengajukan beasiswa. Saat ini, TOEFL dan IELTS menjadi acuan dasar bagi banyak kampus luar negeri untuk menerima siswa dari seluruh penjuru dunia. Oleh karenanya, menurut Dini, penting bagi kandidat pemohon beasiswa untuk mempersiapkan diri mereka sebaik-baiknya untuk mengambil salah satu dari kedua tes tersebut.

SEKOLAH DENGAN ELEGAN
Salah satu keuntungan bersekolah di luar negeri, menurut Dini, adalah bertemu dengan berbagai macam tokoh penting. Tenaga pengajar yang ditemui beliau disana adalah tenaga professional yang telah berkecimpung di dunia hukum sejak lama, dan beberapa diantara mereka adalah orang yang berkontribusi banyak terhadap perkembangan dunia hukum di dunia. Bahkan, beliau sempat bertemu dengan pengelola salah satu firma hukum terbesar di dunia saat berkuliah di Leiden. Bagi beberapa orang, ini adalah kesempatan bagus untuk belajar lebih lanjut mengenai hal-hal yang tidak dapat diperoleh di Indonesia, dan pengalaman seperti ini adalah pengalaman langka yang hanya akan dapat diperoleh saat berkuliah di luar negeri.

GOLDEN TICKET
Dini mempertegas pentingnya bersekolah di luar negeri dengan mengatakan bahwa gelar yang diperoleh dari universitas-universitas besar di luar negeri adalah “tiket emas” atau golden ticket untuk bekerja di perusahaan apapun. Beliau dapat bekerja di law firm tempat beliau bekerja sekarang karena gelar yang diperoleh beliau dari Leiden University. Perusahaan-perusahaan besar pun tidak ragu untuk merekrut pelamar yang memiliki riwayat pendidikan dari luar negeri, karena kualitas pendidikan yang diperoleh oleh para pelajar yang mengejar gelar di luar negeri sudah pasti terjamin.

SEMUA ORANG BISA MENJADI HERO DARI ZERO
Dini memulai perjalanannya hanya berbekal harapan. Harapan tersebut menjadi kenyataan saat beliau wujudkan melalui tindakan nyata yang merupakan hasil dari kerja keras, usaha konsisten, dan ketulusan hati. Dini berpesan agar semua yang sedang mencoba untuk mengejar mimpinya untuk jangan pernah tergoyahkan oleh situasi maupun pendapat orang lain. Menurut beliau, selalu ada sesuatu yang akan membuat kita merasa kecil dan patah semangat, tapi kita harus membuktikan bahwa kita lebih baik dari itu dan harus terus berjuang agar apa yang kita cita-citakan dapat tercapai. “Masih ada waktu untuk kalian menata rencana kalian untuk mengejar mimpi kalian, jika kalian mulai dari sekarang.”, tambah Dini.

Ditulis oleh: M. Yudian Tisnapradana